Tulisan kali ini bukan tentang masalah ekonomi, politik atau pendidikan. Tapi saya ingin menuliskan sebuah pengalaman yang menurut saya pribadi sangat mengesankan. karena saya berpikir bisa merasakan pengalaman seperti mengunjungi kota Jogja dengan seribu ke istimewaanya apalgi bisa melaksanakan tawur agung kesanga di Candi Prambanan. yahh momen nyepi tahun saka 1945 kali memang berbeda. jika dulu Nyepi ada di kampung atau di kota luwuk tempat kuliah S1 saya, namun hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk merayakan rangkain Nyepi di tanah jawa.
Perjalanan Menuju Jogja
Berangkat dari jakarta sekitar jam 4 subuh, waktu tempuh ke Jogja tempat saya dan teman-teman pimpinan pusat KMHDI menginap kurang lebih 9 jam. Namun dengan waktu tempuh yang lumayan lama tersebut saya tidak sama sekali merasa capek. Saya berpikiran mungkin ini pengaruhg semangat saya atau memang jalanya yang bagus. hal yang berbeda yang saya rasakan ketika menempuh perjalanan di daerah saya, badan rasa remuk. Maklum jalanya disana sangat curam dan berkelok serta tidak sedikit harus melewati jalan yang rusak hehe. sesampainya saya bersama rombongan di tempat istirahat tidak jauh dari Candi Prambanan, saya langsung begegas untuk segera ke kamar yang telah dibagikan untuk charger HP dan beristirahat.
Berkunjung ke Jln Malioboro
Tidak lama berselang setelah beristirahat, saya mendapat undangan bertemu dengan dosen saya semasa kuliah S1. bliau kebetulan berada di Jogja dan saya memutuskan untuk menemui bliau di salah satu mall di jogja. saya bersama teman saya sapaan akrab bang deny berangkat dari tempat singgah untuk menemui dosen saya tersebut. banyak hal yang kami ceritakan terkait dunia perkuliahan hingga karier. tentu ini menjadi insight tersendiri bagi saya bisa bertemu dosen pembimbing saya saat masa kuliah S1 dulu. bliau hari ini sedang menempuh pendidikan S3 di Brawijaya Malang, ini menjadi semacam motivasi untuk saya semoga bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral. setelah lama berbincang, kami memutuskan untuk tidak langsung pulang namun langsung berkunjung di jln Malioboro. wahhh tentu jalan ini tidak asing lagi bagi teman-teman semua.
Beli Sate, Hingga Drama Pesan Gojek
Sesampai disana kami langsung menyicipi kuliner yaitu sate. dengan merogoh kocek 15 ribu sudah bisa menikmati sate dan komplit dengan lontongnya. sembari menikmati suasana malioboro yang terpantau ramai pengunjung. sempat ingin menaiki kuda delman, karena proses tawar menawar tidak membuahkan hasil akhirnya kita menyusuri area malioboro dengan jalan kaki. Setelah kurang lebih 2 jam di Jln Malioboro kami berdua memutuskan untuk pulang ke tempat peristirahatan. Namun disini saat memesan gojek di area malioboro, tiba-tiba ada gangguan. saat kita mau memesan tidak bisa dan disuruh coba lagi. masalah tidak sampai disitu saja, karena HP kami berdua lobet kami kawatir tidak bisa memesan keburu HPnya mati. Namun dengan segala usaha akhirnya di detik-detik akhir bisa memesan melalui platform berbeda yaitu grab dengan tarif lumayan bagi kami haha pikiranya yang penting bisa pulang. Setelah sampai dirumah singgah, saya bergegas untuk istirahat dan mempersiapkan baju untuk dipakai besok untuk mengikuti rangkain tawur kesanga di Candi Prambanan.
Tawur Kesanga di Candi Prambanan
Esok harinya saya bangun jam 7 pagi dan bersiap-siap untuk ke Candi Prambanan. Memasuki Candi Prambanan terpantau banyak umat Hindu yang berdatangan. tidak hanya dari jawa tengah saja namun berbagai wilayah sekitar. Saat ritual dimulai dalam mengelilingi candi prambanan bersama iring-iringan gong dan ogoh-ogoh saya mengikuti dibelakang bersama rombongan lainya. saya sangat merasa terharu, bersyukur dan merasa bahagia dititik itu saya bisa menyaksikan begitu beragamnya nilai dan budaya mengiringi prosesi tawur agung di Candi Prambanan. ditengah-tengah mengelilingi candi prambanan tidak luput saya berdoa dan mengucap syukur diberikan kesempatan untuk hadir langsung di tempat pradaban Hindu di Jawa Tengah yang terkenal dengan Cerita Roro Jonggrang. Jika dulu hanya membaca di buku sejarah, menonton TV namun saat itu saya hadir langsung menyaksikan cera langsung bagaimana keindahan dan kemegahan Candi Prambanan.
Bersyukur, Berdoa dan Harapan
Tidak henti-hentinya saya mengucapkan syukur atas kesempatan yang hari itu saya alami. Saat prosesi persembahyangan dimulai saya tidak lupa untuk berdoa dan memanjatkan harapan yang hari ini menjadi resolusi di tahun saka 1945. jika tahun masehi 2023 kemarin membuat resolusi tahun saka juga mestinya harus begitu yang terlintas di pikiran saya hehe. namun hal yang menjadi insight bagi diri sendiri adalah hingga dititik ini harapan besar selalu membersamai. apa yang terjadi hari ini adalah jawaban harapan hari kemarin. saya meyakini hal tersebut. ada satu ungkapan yang saya ingat jika anak muda kehilangan harapan, maka hilanglah masa mudanya. Semoga apa yang saya rasakan dan jejak langkah hari ini bisa menjadi cerita di kelak nanti. Terima kasih Prambanan, besar harapan saya kelak bisa berkunjung kembali.
Jakarta 24 Marer 2023
I Putu Andre Juliana
Komentar
Posting Komentar