Langsung ke konten utama

28 OKTOBER 1928 : PEMUDA DAN NASIB NEGERI INI


        Membahas pemuda adalah membahas masa masa depan, karna pemuda dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab tantangan masa depan. Kehadiran pemuda  yang merupakan generasi penerus dan aset bangsa diharapkan mampu menghadirkan masa depan bangsa ini dengan lebih baik. Menurut Mukhlis  (2007:1) “Pemuda adalah suatu generasi yang di pundaknya di bebani bermacam-macam harapan, terutama dari generasi lainya. Hal ini dapat dimengerti karena pemuda diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang mengisi dan melangsungkan estafet pembangunan yang berkelanjutan”. Karna itu, berbicara pemuda adalah berbicara tentang  bagaimana mempersiapkan nasib bangsa ini kedepan.

Di abab 21 ini usia bangsa ini sudah menginjak 74 tahun. tepatnya Tanggal 17 Agustus kemarin di tahun 2019, Masyarakat Indonesia merayakan hari yang bersejarah, hari yang dimana paling didambakan oleh seluruh rakyat Indonesia, yaitu hari 74 tahun kemerdekaan  Republik Indonesia. Tidak melupakan yang namanya sejarah, seperti hal senada dengan judul pidato Soekarno  “Jangan sekali-kali melupakan Sejarah” pada 17 Agustus 1996, kemerdekaan bangsa ini didasarkan atas perjuangan panjang oleh pahlawan dan pendiri bangsa ini. Berbagai perjuangan bersenjata maupun idealisme yang di lakukan oleh bangsa Indonesia untuk menolak dominasi dan kekuasaan asing di wilayah Nusantara. Deretan perjuangan panjang yang merupakan melatarbelakangi terjadi kemerdekaan bangsa Indonesia salah satunya yaitu semangat juang persatuan pemuda Indonesia yang diikrarkan dalam “Sumpah Pemuda” pada 28 Oktober 1928.

Melihat situasi pada saat itu, bahwa pergerakan dan perlawanan dari kelompok pemuda masih bersifat kedaerahan, kultural. Pemuda menyadari harus adanya persatuan dan dukungan untuk bisa bersatu demi kemerdekaan. Munculnya inisiatif untuk bisa menggabungkan dari para perhimpunan pemuda ke dalam sebuah musyawarah besar. Setelah kongres I pada tahun 1926 berdirinya Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI). PPPI memprakasai dilaksanakannya Kongres II. Pada tanggal 27-28 Oktober 1928 dilaksanakan kongres pemuda II, kelompok pemuda berharap dalam kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam jiwa dan sanubari pemuda. Dalam rapat kedua, Minggu 28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta) dirumuskanya hasil keputusan kongres pemuda-pemuda Indonesia. Rumusan itu diucapkan sebagai sumpah setia yang menghasilkan tiga keputusan/Asas untuk membangkitkan bersatunya gerakan pemuda bersifat nasional yang kita kenal saat ini dengan istilah “Sumpah Pemuda”. Sumpah Pemuda sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya.

Sumpah Pemuda adalah suatu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya bangsa Indonesia. Sumpah Pemuda dimaknai sebagai momentum bersatunya para pemuda, yang kemudian bergerak bersama dan berjuang menuju indonesia merdeka. Sumpah Pemuda menegaskan cita-cita akan ada “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, Dan “bahasa Indonesia”. Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap perkumpulan kebangsaan Indonesia.

Semangat juang pemuda dalam meraih kemerdekaan mengingatkan kita kembali dalam peristiwa Rengasdengklok. Kelompok pemuda mendesak kepada Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Mereka menginginkan kemerdekaan segera diproklamasikan lepas sama sekali dari pengaruh jepang (Yuniarti, 2003: 36).  Pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04:30 waktu Jawa zaman Jepang (Sekitar 04:00) Kelompok pemuda membawa Soekarno dan Hatta ke luar kota di Rengasdengklok dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang (Poesponegoro & Notosusanto, 1992 : 81 ). Seharian penuh Soekarno dan Hatta di Rengasdengklok. Singkatnya melalui perundingan dan kesepakatan antara golongan tua dan kelompok pemuda dengan pertimbangan bahwa kemerdekaan Indonesia ditentukan oleh bangsa Indonesia sendiri, akhirnya Soekarno-Hatta Menandatangani naskah Proklamasi atas nama bangsa Indonesia.

Sepanjang lebih 3 abad terjadi konflik berdarah antara bangsa Indonesia dengan penjajah, puncaknya dari rangkaian  panjang perjuangan bangsa indonesia adalah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Naskah  Proklamasi diproklamirkan  oleh Ir. Soekarno & Mohamad Hatta  dilakukan di depan rumah Soekarno di Jalan Pengangsaan Timur No. 56 pada Jum’at, 17 Agustus 1945 pukul 10:30 waktu jawa zaman jepang (pukul 10:10) pada saat bulan puasa (Poesponegoro & Notosusanto 1992: 87).

Masa depan bangsa terletak di tangan pemuda. Sebagaimana Ir. Soekarno Presiden Republik Indonesia pertama pernah berucap “Berikan aku 10 pemuda dan aku akan guncangkan dunia”. Merujuk dari pernyataan tersebut, Soekarno mengakui bahwa eksistensi pemuda dalam suatu negeri menentukan masa depan dan nasib negeri tersebut. Demikian pula yang dikemukan oleh Ben Anderson dalam Revolusi Indonesia, bahwa pemuda merupakan sumber kekuatan utama Revolusi. Sejarah Indonesia pernah mencatat runtuhnya dua rezim oleh gerakan pemuda. Pada tahun 1996 melalui gerakan pemuda berhasil menghapuskan komunisme di tanah air Indonesia. Dan tentunya masih terekam sangat jelas dalam memori kita dalam gerakan Reformasi pada tahun 1998 yang banyak memakan korban dari pemuda atau mahasiswa dan menjadi titik balik demokrasi di Indonesia.

Apa gerangan pemuda Indonesia saat ini? Baiknya kita mengamati dulu situasi bangsa ini, maka akan tercermin pemudanya. 74 tahun Indonesia merdeka masih banyak permasalahan & konflik yang masih menjadi momok bangsa ini. Mulai dari konflik Isu Sara, Rasisme, Hoax, kesejahteraan masyarakat, hukum yang masih dipertanyakan keadilanya, pembangunan infrastruktur yang tidak merata, kesenjangan sosial, narkoba merajarela, korupsi, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, dibajaknya demokrasi oleh elite politik, pengangguran, kemiskinan, dan masih banyak lagi permasalahan atau konflik yang silih berganti, membentuk siklus yang mata rantainya sampai saat ini belum terputuskan.

Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Perjuangan berat generasi 45 pada masa lampau, sama beratnya bahkan lebih berat perjuangan generasi penerus di masa sekarang. “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuanganmu akan lebih berat, karna melawan bangsamu sendiri” itulah yang pernah dikatakan Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia. Kutipan Ir. Soekarno tersebut menyiratkan , sebuah pesan yang tegas mengatakan bahwa kita akan kesulitan melawan saudara sendiri. Peran pemuda dalam hal ini sangat dibutuhkan oleh bangsa kita Indonesia, pemuda Indonesia tidak boleh menjadi penonton di negeri sendiri. setelah berhasil membidani lahirnya reformasi, suka dan tidak suka dengan semangat membangun bangsa kedepan, semagat jiwa “Sumpah Pemuda” harus kembali tampil mempelopori persatuan dan kesatuan bangsa dalam mencapai cita-cita bangsa yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.

Sumpah Pemuda yang pada tanggal 28 Oktober tahun 2019 ini akan menginjak usianya yang ke-91, merupakan jiwa pemersatu bangsa, semangat dan roh yang menjiwai perjuangan bangsa ini. Dalam catatan historis pemuda selalu berperan dalam setiap zaman, baik sebelum kemerdekaan atau sudah kemerdekaan. Ingin menjadi 10 pemudanya Soekarno? Atau 1000 orang tuanya Soekarno? Ini merupakan analogi atau pertanyaan yang cerdas dan  bermakna untuk kita sebagai pemuda. Mengusung Semangat Sumpah Pemuda, ketika  memilih menjadi 10 pemudanya Soekarno sudah seyogyanya sebagai pemuda dengan segala predikat sebagai Aset bangsa, Agen perubahan, Social control mampu mengguncangkan & meluluhlantakan persoalan, konflik yang masih menggerogoti sari bumi pertiwi ini. Hilangkan kepentingan-kepentingan politik sesaat. Satukan pikiran untuk membawa kemerdekaan yang seutuhnya kepada bangsa ini. Pembangunan negara ini harus dikembalikan ke jalur yang benar berdasarkan Ideologi Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 guna mendukung terciptanya cita-cita bangsa Indonesia. Di momen Sumpah Pemuda hari ini yang ke-91 seharusnya menjadi refleksi bangsa Indonesia, khususnya pemuda dalam menyikapi persoalan, konflik dan tantangan zaman yang semakin komplex.

Melihat tantangan zaman, Indonesia juga akan menghadapi bonus demografi dan menghadapi era industri 4.0. Bonus demografi akan menjadi peluang potensi dalam pengembangan kualitas hidup dan pertumbuhan ekonomi, dan sekaligus tantangan  besar bagi bangsa ini. serta ditambah dengan adanya revolusi industri 4.0. dibutuhkan peran berbagai pihak untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia indonesia agar memiliki daya saing ketika bonus mencapai puncaknya dan persaingan industri 4.0 semakin ketat. Peran yang paling sentral dalam situasi ini adalah peran pemerintah dengan segala kebijakan, regulasinya akan menentukan arah bangsa ini. Perlunya perjuangan dan kesolidan serta semangat gotong royong antara rakyat dengan pemerintah dalam mengatasi permasalahan, konflik yang masih terbelengu di bangsa ini untuk mewujudkan “SDM unggul, Indonesia maju” sesuai dengan Tema HUT RI 74 tahun. Dalam Momen Sumpah Pemuda ini tentunya harapan kita semua lebih memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dalam mewujudkan Indonesia kepuncak kejayaan dan  Merdeka sepenuhnya.

Ketika kemewahan Idealisme yang hanya dimiliki oleh pemuda, maka merdekalah dalam berpikir dan bertindak. Selamat hari Sumpah Pemuda yang ke-91, Semoga Pemuda semakin jaya di bumi Nusantara ini.

 

Luwuk, 28 Oktober 2019

Penulis : I Putu Andre Juliana

 

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW BUKU "BERANI TIDAK DISUKAI"

Jakarta - Dalam buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Khisimi & Fumitake Koga merupakan buku nonfiksi yang berisi tentang teori psikologi Adler yang ditulis dengan gaya naratif antara seorang filsuf dan seorang pemuda, yang pemuda itu setiap malam secara terus menerus hingga lima malam mendatangi seorang filsuf untuk melontarkan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan persoalan kehidupan. Dalam lima hari tersebut, sang filsuf dengan senang hati terus memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan pemuda tersebut. Malam pertama, membahas persoalan menyangkal keberadaan trauma, malam kedua membahas semua persoalan adalah hubungan interpersonal, malam ketiga membahas  menyisihkan tugas-tugas lain, malam ke empat membahas di manakah pusat dunia ini dan malam kelima membahas  hidup dengan sungguh-sungguh di sini pada saat ini. Berdasarkan isi dari buku Berani Tidak Disukai, ada beberapa poin atau hal penting yang bisa di pelajarari. Dunia ini adalah sederhana, Namun ...

Jejak Harapan di Candi Prambanan, Edisi Tawur Agung Nyepi Tahun Saka 1945

Tulisan kali ini bukan tentang masalah ekonomi, politik atau pendidikan. Tapi saya ingin menuliskan sebuah pengalaman yang menurut saya pribadi sangat mengesankan. karena saya berpikir bisa merasakan pengalaman seperti mengunjungi kota Jogja dengan seribu ke istimewaanya apalgi bisa melaksanakan tawur agung kesanga di Candi Prambanan. yahh momen nyepi tahun saka 1945 kali memang berbeda. jika dulu Nyepi ada di kampung atau di kota luwuk tempat kuliah S1 saya, namun hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk merayakan rangkain Nyepi di tanah jawa.  Perjalanan Menuju Jogja Berangkat dari jakarta sekitar jam 4 subuh, waktu tempuh ke Jogja tempat saya dan teman-teman pimpinan pusat KMHDI menginap kurang lebih 9 jam. Namun dengan waktu tempuh yang lumayan lama tersebut saya tidak sama sekali merasa capek. Saya berpikiran mungkin ini pengaruhg semangat saya atau memang jalanya yang bagus. hal yang berbeda yang saya rasakan ketika menempuh perjalanan di daerah saya, badan rasa...

TAHAPAN BRAHMACARI SEBAGAI PONDASI DALAM MEMBANGUN GROWTH MINDSET PEMUDA HINDU

Oleh : I Putu Andre Juliana  Berbicara tentang tahapan berarti kita berbicara mengenai proses, jenjang, dan tingkatan dalam kehidupan. Dalam agama Hindu diajarkan tentang Asrama Dharma yaitu suatu tingkatan hidup yang dilalui oleh umat manusia, dari lahir hingga meninggal dunia. Ada empat tingkatan atau tahapan yang harus dijalani manusia, yang disebut dengan Catur Asrama. Catur Asrama berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata Catur dan Astrama. Catur berarti empat dan Asrama berarti tingkatan hidup. Tingkatan hidup berdasarkan atas tatanan rohani, waktu, umur, dan sifat perilaku manusia. Secara konseptual, ajaran catur asrama mengajarkan bagaimana umat untuk menjalani karmanya sebagai manusia sesuai dengan pertumbuhan manusia itu sendiri. Catur Asrama ini adalah konsepsi dasar untuk mencapai empat tujuan hidup tersebut. Setiap jenjang kehidupan dalam ajaran Catur Asrama memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai. Pada masa Brahmacari menitik beratkan pada ilmu pengetahuan. ...