CATATAN SEORANG ANAK PETANI
Kamis, 24 September 2020 merupakan Hari Tani Nasional. Peringatan Hari Tani bukan sekedar hanya simbol atau peringatan biasa namun lebih dari perhargaan terhadap profesi petani. Soekarno pernah berkata, berbicara tentang soal pangan adalah berbicara tentang persoalan hidup dan matinya bangsa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa peran sektor petani sangat krusial dalam keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam hal pemenuhan pangan, baik dari sektor ekonomi, industri, dan lain sebagainya. Petani adalah profesi yang sangat mulia, yaitu sebagai penyangga dan penyokong ketahanan pangan nasional. Namun pertanyaan besar ada dalam hati saya, apakah aktor atau orang yang bergelut sebagai profesi petani sudah mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah? Apakah masyarakat tani sudah sejahtera?
Melihat realita yang ada dan kondisi dilapangan saya beranggapan bahwa pemerintah atau pemangku kebijakan masih belum sadar, memperhatikan, dan acuh terhadap nasib seorang petani. Sebagai anak petani saya sangat merasakan bagaimana letihnya seorang petani, kerasnya kehidupan dalam menjalankan profesi seorang petani, bahkan ketidak pastian terhadap hasil tani itu sendiri. Tetapi pemerintah seakan tutup mata dan beranggapan bahwa nasib petani lagi baik-baik saja, terlebih dengan kebijakan-kebijakan seperti pengurangan subsidi pupuk, mahalnya biaya operasional, dan tidak mampunya pemerintah menjaga harga pasar menambah deretan permasalahan sektor pertanian. Tentu Sangat berbanding balik jika melihat profesi petani yang sangat begitu mulianya menjadi ibu dan nyawa kehidupan sektor lainya.
Pemerintah seakan menyampingkan perhatian terhadap profesi petani dan lebih senang menari dan sekongkol dengan profesi lainya yang dianggap lebih menguntungkan dari segi profit. Maka tidak heran jika generasi sekarang enggan untuk menjalani profesi seorang petani yang serba ketidak pastian. Mengutip dari pemikiran mbak nana (Najwa Shihab) Untuk apa kaya ilmu, jika hanya untuk kepentingan pribadi dan sanak family. Mari kita suarakan apa yang menjadi problem selama ini, agar pemeritah dan pemangku kebijakan sadar dan bangun dari tidurnya untuk melihat realita seorang petani.
Bangga menjadi anak petani, karna saya yakin seorang yang menjalani profesi petani adalah orang yang mandiri, tekun dan pekerja keras tanpa menunggu dan memohon belas kasihan pemerintah. Dari beberapa literatur saya baca ada kata tersirat “Kalian munkin satu hari dua hari akan membutuhkan yang namanya seorang ahli hukum, ahli politik, polisi dan profesi lainya. Namun kamu akan selalu membutuhkan seorang petani selama kamu masih hidup”. Kita bisa simpulkan bahwa sektor pertanian akan selalu hidup tidak tertelan waktu. Terima Kasih
Luwuk, 24 September 2020
Penulis : I Putu Andre Juliana
Komentar
Posting Komentar