Langsung ke konten utama

MEMAKNAI HARI RAYA KUNINGAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Hari Raya Kuningan adalah hari raya yang dirayakan umat Hindu Dharma di Bali khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Perayaan ini jatuh pada hari Saniscara (Sabtu), Kliwon, Wuku Kuningan. Hari raya kuningan dirayakan setiap 6 bulan atau 210 hari setelah 10 hari raya Galungan. 
Kata kuningan memiliki makna “Kauningan” yang artinya mencapai peningkatan spritual dengan cara Intropeksi agar terhindar dari mara bahaya. 

Hari ini tepatnya tanggal 26 September 2020, Seluruh umat Hindu Dharma khusunya di Bali dan pada umumnya di Indonesia sedang merayakan hari raya kuningan di tengah pandemi. Seperti kita ketahui bahwa bangsa kita ini lagi menghadapi wabah pandemi Covid-19. Segala aktifitas masyrakatpun mengalami perubahan dan transasi dengan diberlakukan kebijakan new normal, termasuk dalam aktifitas keagamaan

Lantas bagaimana kita memaknai hari raya kuningan ini di masa pandemi? 

Sebagai umat yang beragama dan hidup disuatu negara, tentu sudah keharusan kita tetap menjalankan swadharma kita sebagai masyarakat, baik dari swadharma agama dan negara. diberlakukanya kebijakan new normal membuat aktifitas masyarakat tetap berjalan seperti halnya merayakan hari raya kuningan namun dengan penyusuaian, adaptasi, dan aturan protokol kesehatan. Dengan situasi tersebut maka  peningkatan spritual dalam memaknai hari raya kuningan di masa pandemi perlu di sadari dan ditingkatkan. 

Rasa bersyukur adalah kunci dari peningkatan spritual,karna dalam mengisi kemenangan dharma harus didasari rasa bersyukur atas nikmat baik secara rohani dan jasmani. Kemenangan dharma yang telah di rayakan dari hari raya galungan dan puncaknya di hari raya kuningan hendaklah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain peningkatan spritual, kesadaran atas kewajiban dalam menjalankan aturan negara perlu di tingkatkan karna itu adalah wujud dari dharma negara.
Dharma bukan hanya diwacanakan tetapi dilaksanakan. Selamat Hari Raya Kuningan. Terima kasih

Luwuk, 26 September 2020

Penulis : I Putu Andre Juliana
Referensi : Wikepedia 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW BUKU "BERANI TIDAK DISUKAI"

Jakarta - Dalam buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Khisimi & Fumitake Koga merupakan buku nonfiksi yang berisi tentang teori psikologi Adler yang ditulis dengan gaya naratif antara seorang filsuf dan seorang pemuda, yang pemuda itu setiap malam secara terus menerus hingga lima malam mendatangi seorang filsuf untuk melontarkan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan persoalan kehidupan. Dalam lima hari tersebut, sang filsuf dengan senang hati terus memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan pemuda tersebut. Malam pertama, membahas persoalan menyangkal keberadaan trauma, malam kedua membahas semua persoalan adalah hubungan interpersonal, malam ketiga membahas  menyisihkan tugas-tugas lain, malam ke empat membahas di manakah pusat dunia ini dan malam kelima membahas  hidup dengan sungguh-sungguh di sini pada saat ini. Berdasarkan isi dari buku Berani Tidak Disukai, ada beberapa poin atau hal penting yang bisa di pelajarari. Dunia ini adalah sederhana, Namun ...

Jejak Harapan di Candi Prambanan, Edisi Tawur Agung Nyepi Tahun Saka 1945

Tulisan kali ini bukan tentang masalah ekonomi, politik atau pendidikan. Tapi saya ingin menuliskan sebuah pengalaman yang menurut saya pribadi sangat mengesankan. karena saya berpikir bisa merasakan pengalaman seperti mengunjungi kota Jogja dengan seribu ke istimewaanya apalgi bisa melaksanakan tawur agung kesanga di Candi Prambanan. yahh momen nyepi tahun saka 1945 kali memang berbeda. jika dulu Nyepi ada di kampung atau di kota luwuk tempat kuliah S1 saya, namun hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk merayakan rangkain Nyepi di tanah jawa.  Perjalanan Menuju Jogja Berangkat dari jakarta sekitar jam 4 subuh, waktu tempuh ke Jogja tempat saya dan teman-teman pimpinan pusat KMHDI menginap kurang lebih 9 jam. Namun dengan waktu tempuh yang lumayan lama tersebut saya tidak sama sekali merasa capek. Saya berpikiran mungkin ini pengaruhg semangat saya atau memang jalanya yang bagus. hal yang berbeda yang saya rasakan ketika menempuh perjalanan di daerah saya, badan rasa...

TAHAPAN BRAHMACARI SEBAGAI PONDASI DALAM MEMBANGUN GROWTH MINDSET PEMUDA HINDU

Oleh : I Putu Andre Juliana  Berbicara tentang tahapan berarti kita berbicara mengenai proses, jenjang, dan tingkatan dalam kehidupan. Dalam agama Hindu diajarkan tentang Asrama Dharma yaitu suatu tingkatan hidup yang dilalui oleh umat manusia, dari lahir hingga meninggal dunia. Ada empat tingkatan atau tahapan yang harus dijalani manusia, yang disebut dengan Catur Asrama. Catur Asrama berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata Catur dan Astrama. Catur berarti empat dan Asrama berarti tingkatan hidup. Tingkatan hidup berdasarkan atas tatanan rohani, waktu, umur, dan sifat perilaku manusia. Secara konseptual, ajaran catur asrama mengajarkan bagaimana umat untuk menjalani karmanya sebagai manusia sesuai dengan pertumbuhan manusia itu sendiri. Catur Asrama ini adalah konsepsi dasar untuk mencapai empat tujuan hidup tersebut. Setiap jenjang kehidupan dalam ajaran Catur Asrama memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai. Pada masa Brahmacari menitik beratkan pada ilmu pengetahuan. ...