Langsung ke konten utama

PENDIDIKAN INDONESIA BELUM MERDEKA

 

 PENDIDIKAN INDONESIA BELUM MERDEKA

Oleh : I Putu Andre Juliana

 Berbicara tentang pendidikan adalah berbicara tentang masa depan bangsa, karna pendidikan adalah salah satu jalan yang akan menghantarkan suatu bangsa untuk mencapai kecermelanganya. “Education is a function of the state, and is conducted, primarilly at least, for the ends of the state” kata Aristoteles. Bukan rahasia umum lagi bahwa pendidikan merupakan salah satu fungsi dari suatu negara dan dilakukan terutama  untuk mencapai cita-cita dan tujuan negara itu sendiri.

Pendidikan merupakan salah satu kunci penting yang dapat mengatasi berbagai permasalahan suatu negara, termasuk negara Indonesia. Namun, berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia  masih menggerogoti dan belum sepenuhnya teratasi dengan baik oleh pemerintah. Padahal pendidikan merupakan komponen terpenting dalam upaya mencerdaskan anak bangsa dan memajukan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Berkaca dari sejarah bahwa kebodohan dan keterbelakangan sudah terbukti merupakan sasaran empuk bagi munculnya penjajahan, penindasan dan perilaku yang tidak berkemanusiaan. Sangat disadari bahwa dengan hanya pendidikanlah bangsa Indonesia dapat merebut kemerdekaan, menata negara dan mewujudkan cita-cita bersama.

Indonesia sudah menginjak usia ke 75 tahun, namun keinginan dan obsesi seluruh warga bangsa untuk senantiasa menginginkan pelaksanaan pendidikan dapat terwujud dalam cita-cita bangsa sebagaimana termuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat yakni mencerdaskan kehidupan bangsa masih menjadi isapan jempol semata. Padahal, konstitusi telah menjamin hak setiap warga untuk mendapatkan pendidikan sebagaiamana tertulis pada Pasal 31 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Berdasarkan pasal 31 ini, negara memiliki dua kewajiban yaitu menyelenggarkan pendidikan bagi warga negara, dan membiayai pendidikan bagi warga negara.

Namun sampai saat ini realita yang terjadi pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata merdeka. Masih banyak anak bangsa yang belum dapat mencicipi pendidikan dengan layak, dan tingginya angka  putus sekolah. Dilansir dari media TEMPO.CO Jumat, (28/8/2020) total jumlah anak putus sekolah di 34 provinsi sepanjang tahun 2019 masih berada di kisaran 4,5 juta anak. Dari data yang di miliki Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Jumlah anak usia 7-12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah berada 1.228.792 anak. Untuk kategori usia 13-15 tahun di 34 provinsi jumlahnya 936.674 anak. Sementara usia 16-18 tahun ada 2.420.866. Pemandangan seperti ini sangat miris dan menyiratkan bahwa bangsa ini belum sepenuhnya merdeka dalam bidang pendidikan. Salah satu aspek penting dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah memastikan pendidikan bisa di akses oleh seluruh rakyat.

Pendidikan merupakan hal penting yang harus diperhatikan negara. Selain menjamin pendidikan bisa di akses oleh seluruh rakyat, pemerintah juga harus memperhatikan penyelengaraan pendidikan itu sendiri. Menyelenggarakan pendidikan berarti negara harus menyediakan fasilitas kebutuhan mulai dari tempat/sekolah, sarana dan prasarana hingga tenaga pendidik untuk menunjang proses belajar mengajar. Pemerintah telah menetapkan anggaran pendidikan minimal 20 % dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sesuai dengan Pasal 31 Ayat 4 Undang-Undang Dasar 1945. Namun besaran anggaran tersebut berbanding balik dengan realitatif dan fakta yang terjadi. Pemerintah belum sepenuhnya melaksanakan Pasal 31 ayat 4 tersebut. Badan Pusat Statistik mempublikasikan bahwa sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia untuk SD Negeri 75,43 % dan Swasta 53,83 % dalam kondisi tidak baik. Sedangkan jenjang SMP Negeri 61,84 % dan swasta 64,33 dalam kondisi tidak baik.. Untuk (SMA Negeri 56,99 % swasta 52,07 %) (SMK Negeri 48,74 % swasta 55,26 %) dalam keadaan tidak baik. Terlebih lagi permasalahan pemerataan sarana dan prasarana pendidikan di pelosok daerah yang belum memadai menambah deretan masalah pendidikan di Indonesia. Padahal di era globalisasi ini, sarana dan prasarana pendidikan sangat penting dalam proses belajar mengajar yang inklusif dan berkualitas.

Selain permasalahan akses dan  penyelengaraan pendikan, kesejahteraan tenaga pengajar atau guru masih menjadi sorotan utama dalam dunia pendidikan. Sangat miris meski sudah 26 tahun Indonesia memperingati Hari Guru Nasional, kesejahteran guru masih menjadi isu nasional yang tidak kunjung terselesaikan. Tenaga pengajar atau guru masih belum merdeka dalam hal kesejahteraan. Mulai dari status kejelasan kepegawaian dan rendahnya penghasilan guru. Permasalahan seperti ini sangat dirasakan oleh guru yang berstatus honorer dan yang belum sertifikasi. Di beberapa daerah pada kenyataanya gaji guru honorer hanya berkisar antara  Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000 bahkan ada beberapa daerah yang kekurangan dana menggaji guru honorernya hanya sebesar Rp 350.000 saja perbulanya. Penghasilan dibawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) di pandang sangat tidak adil jika dibandingkan dengan pekerjaan guru yang mulia dan berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa. Guru merupakan faktor kunci mutu pendidikan dan kemajuan bangsa sudah seharusnya kesejahteraan guru mendapat perhatian lebih  oleh pemerintah. Saat guru sejahtera, bangsa Indonesia akan berdaulat. (Beni setiawan : 2019). Entah sampai kapan pemandangan seperti ini akan berlarut dan hanyut di dalam negara kita. Biasanya permasalahan seperti ini akan hangat dibahas kembali saat menjelang pemilihan kepala daerah, pemilihan presiden atau hanya dijadikan komoditi kepentingan saja tanpa ada realisasi nyata.

Sangat ironis jika pemerintah tidak serius dalam menangani permasalahan pendidikan bangsa ini. Apalagi indonesia akan menyongsong yang namanya bonus demografi di era revolusi industri 4.0. Indonesia akan diprediksi akan mengalami masa bonus demografi pada tahun 2020-2035, keadaan dimana usia produktif meningkat secara signifikan. Tantangan utama dalam menyongsong bonus demografi adalah ketenagakerjaan dan pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas dan ketrampilan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri maka dunia pendidikan sangat berperan penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dunia pendidikan menjadi kunci untuk bonus demografi. Maka dari itu salah satu langkah agar bonus demografi menjadi berkah bagi negara yaitu meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan melalui akses pendidikan yang meluas, merata dan berkeadilan. Menjadi suatu kebanggaan bagi negara jika apabila dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik.

Pendidikan adalah tonggak kemajuan bangsa, menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia termasuk indonesia. Namun tidak dipungkiri bahwa Indonesia masih bergelut dengan segudang permasalahan di bidang pendidikan. Maka dari itu adapun solusi yang diberikan mulai dari  permasalaha sulitnya akses pendidikan adalah mewujudkan pendidikan gratis bagi seluruh rakyat indonesia. Ini sesuai dengan amanat pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Sudah seharusnya pendidikan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat tanpa ada pengecualian. Pemerintah harus menjamin dan memastikan warga negaranya dapat mengakses pendidikan secara merdeka. Berasaskan keadilan sosial maka hak dan kewajiban seluruh rakyat indonesia untuk dapat mengenyam bangku pendidikan harus di wujudkan. Tidak ada diskriminasi antara orang kaya atau miskin, tinggal di kota atau di desa semua mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan. Selain memastikan akses pendidikan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, dalam proses penyelengaraan pendidikan juga harus dibenahi. Anggaran pendidikan 20 % dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sesuai dengan Pasal 31 Ayat 4 UUD 1945 seharusnya direalisasikan dengan baik untuk kebutuhan penyelenggaraan pendidikan, mulai dari sarana dan prasara pendidikan, tempat atau sekolah yang tidak layak, pemerataan pendidikan serta kesenjangan dan kesejahteraan tenaga pendidik. Sehingga harapan  tercapainya pendidikan yang inklusif  dan berkualitas bisa terwujud. Menyelenggarakan pendidikan merupakan salah satu pelayanan negara kepada warganya yang bertujuan untuk mencerdaskan rakyatnya. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap negara untuk menyelenggarkan  dan membiayai pendidikan bagi setiap warga negaranya.

Sudah menjadi rahasia umum lagi bahwa maju dan tidaknya suatu negara dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Terlebih di usia 75 tahun, Indonesia mengambil tema “Indonesia Maju”. Untuk mewujudkan indonesia maju, harus dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia yang mempunyai kapasitas mumpuni sehingga mampu bersaing secara global. Peran pendidikanlah yang menjadi kunci untuk menjawab semua masalah tersebut. Tidak ada suatu negara di dunia ini yang maju tanpa adanya pendidikan. Meminjam pemikiran dari bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara, menempatkan kemerdekaan sebagai tujuan pendidikan, maka sudah seharusnya seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk bergotong royong untuk mewujudkan pendidikan yang merdeka bagi seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan merdeka, Indonesia maju. Terima Kasih

 

Damai Makmur, 29 Agustus 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW BUKU "BERANI TIDAK DISUKAI"

Jakarta - Dalam buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Khisimi & Fumitake Koga merupakan buku nonfiksi yang berisi tentang teori psikologi Adler yang ditulis dengan gaya naratif antara seorang filsuf dan seorang pemuda, yang pemuda itu setiap malam secara terus menerus hingga lima malam mendatangi seorang filsuf untuk melontarkan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan persoalan kehidupan. Dalam lima hari tersebut, sang filsuf dengan senang hati terus memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan pemuda tersebut. Malam pertama, membahas persoalan menyangkal keberadaan trauma, malam kedua membahas semua persoalan adalah hubungan interpersonal, malam ketiga membahas  menyisihkan tugas-tugas lain, malam ke empat membahas di manakah pusat dunia ini dan malam kelima membahas  hidup dengan sungguh-sungguh di sini pada saat ini. Berdasarkan isi dari buku Berani Tidak Disukai, ada beberapa poin atau hal penting yang bisa di pelajarari. Dunia ini adalah sederhana, Namun ...

Jejak Harapan di Candi Prambanan, Edisi Tawur Agung Nyepi Tahun Saka 1945

Tulisan kali ini bukan tentang masalah ekonomi, politik atau pendidikan. Tapi saya ingin menuliskan sebuah pengalaman yang menurut saya pribadi sangat mengesankan. karena saya berpikir bisa merasakan pengalaman seperti mengunjungi kota Jogja dengan seribu ke istimewaanya apalgi bisa melaksanakan tawur agung kesanga di Candi Prambanan. yahh momen nyepi tahun saka 1945 kali memang berbeda. jika dulu Nyepi ada di kampung atau di kota luwuk tempat kuliah S1 saya, namun hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk merayakan rangkain Nyepi di tanah jawa.  Perjalanan Menuju Jogja Berangkat dari jakarta sekitar jam 4 subuh, waktu tempuh ke Jogja tempat saya dan teman-teman pimpinan pusat KMHDI menginap kurang lebih 9 jam. Namun dengan waktu tempuh yang lumayan lama tersebut saya tidak sama sekali merasa capek. Saya berpikiran mungkin ini pengaruhg semangat saya atau memang jalanya yang bagus. hal yang berbeda yang saya rasakan ketika menempuh perjalanan di daerah saya, badan rasa...

TAHAPAN BRAHMACARI SEBAGAI PONDASI DALAM MEMBANGUN GROWTH MINDSET PEMUDA HINDU

Oleh : I Putu Andre Juliana  Berbicara tentang tahapan berarti kita berbicara mengenai proses, jenjang, dan tingkatan dalam kehidupan. Dalam agama Hindu diajarkan tentang Asrama Dharma yaitu suatu tingkatan hidup yang dilalui oleh umat manusia, dari lahir hingga meninggal dunia. Ada empat tingkatan atau tahapan yang harus dijalani manusia, yang disebut dengan Catur Asrama. Catur Asrama berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata Catur dan Astrama. Catur berarti empat dan Asrama berarti tingkatan hidup. Tingkatan hidup berdasarkan atas tatanan rohani, waktu, umur, dan sifat perilaku manusia. Secara konseptual, ajaran catur asrama mengajarkan bagaimana umat untuk menjalani karmanya sebagai manusia sesuai dengan pertumbuhan manusia itu sendiri. Catur Asrama ini adalah konsepsi dasar untuk mencapai empat tujuan hidup tersebut. Setiap jenjang kehidupan dalam ajaran Catur Asrama memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai. Pada masa Brahmacari menitik beratkan pada ilmu pengetahuan. ...