REFLEKSI
16 TAHUN KECAMATAN NUHON
Nuhon adalah sebuah
kecamatan di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Kecamatan
ini berjarak sekitar 150 Km ke arah barat laut dari Kota Luwuk, ibu kota
Kabupaten Banggai melalui pagimana. Pusat pemerintahannya berada di Desa
Tomeang. Kecamatan Nuhon merupakan pemekaran dari Kecamatan Bunta. (Sumber :
Wikepedia)
Adapun batas wilayah
kecamatan nuhon sebagai berikut
Utara : Kecamatan Bunta dan Teluk Tomini
Timur : Kecamatan Simpang Raya
Selatan : Kecamatan Batui dan Kecamatan Toili
Barat : Kabupaten Tojo Una-una
Berdasarkan data dari BPS
Kabupaten Banggai tahun 2016 , Kecamatan Nuhon
memiliki jumlah penduduk sekitaran 19.906 jiwa yang tersebar di 20 desa. Sumber penghasilan sebagian besar masyakat Kecamatan Nuhon
bergantung dalam sektor petani dalam hal ini sub sektor perkebunan, sub sektor
palawija dan sub sektor perikanan.
Dibulan agustus ini tepatnya
pada tanggal 26 Agustus 2020 Kecamatan Nuhon akan genap berusia 16 tahun. Pada
angka usia 16 tentunya harapan dan keinginan kita Nuhon menjadi lebih baik
lagi, sehingga perkembangan dan kemajuan
yang dicita-citakan bisa terwujud. Tidak
bisa dipungkuri di usia yang “ideal” ini masih banyak problem dan pembenahan
yang menjadi PR kita bersama baik dari unsur pemerintahan maupun seluruh kalangan
masyakarat Kecamatan Nuhon.
Lantas apa saja yang masih
menjadi “Problem”? atau pembangunan sektor apa yang masih perlu dibenahi? berikut
ada 4 poin dalam tulisan saya kali ini
yang berisi pandangan, kritikan maupun saran untuk arah pembangunan Kecamatan
Nuhon kedepan.
1.
PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan salah satu ukuran kemajuan sumber daya
manusia dalam satu wilayah. Bukan rahasia umum lagi bahwa dengan pendidikan
yang baik akan menghasilkan SDM yang berkualitas. Sejak reformasi bergulir
sampai saat ini pendidikan di Indonesia
umumnya dan khususnya di Kecamatan Nuhon masih terbelakang. Salah satu
indikator kemajuan pendidikan adalah memastikan seluruh masyarakat dapat
mengeyam pendidikan sesuai amanat Pasal 31 Ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi setiap
warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Pada kenyataanya masih ada
anak-anak usia sekolah yang belum bisa mengenyam bangku pendidikan, rendahnya
angka partisipasi sekolah dan tingginya usia putus sekolah di Kecamatan Nuhon.
Yang menjadi perhatian selanjutnya dalam dunia pendidikan di wilayah
Kecamatan Nuhon adalah fasilitas sarana dan prasarana di sekolah-sekolah
masih belum memadai. Kerap kali adik-adik siswa/siswi SMA atau SMP
diperhadapkan dengan situasi “meminjam”
fasilitas sekolah di luar saat mengikuti ujian berbasis komputer atau
menghadapi UNBK. Hal ini menggambarkan kita masih satu langkah tertinggal dari sekolah lain. Seharusnya ini menjadi
perhatian bagi pemerintah terkait untuk lebih peka dan sadar tentang permasalahan
pendidikan di wilayah Nuhon. Karna di era globalisasi ini fasilitas yang
memadai akan mendukung proses belajar mengajar peserta didik .
2.
KESEHATAN
Belum meratanya
pelayanan kesehatan masyarakat menjadi
catatan penting bagi pemerintah di Kecamatan Nuhon, Kabupaten Banggai Sulawesi
Tengah. Baik dari sisi tenaga medis hingga sisi fasilitas kesehatan. Hal itu
terlihat dari data BPS Kabupaten Banggai Jumlah Sarana dan Penyalur Obat
Menurut Desa tahun 2016 tercatatat Kecamatan Nuhon Hanya tersalur 11 Puskemas saja yang terbagi 2 Puskemas
Induk, 7 Puskemas pembantu dan 2 puskemas keliling. Selain itu layanan kesehatan seperti Apoteker di Nuhon
hanya ada 1, yaitu di Desa Tomeang. Padahal seperti kita ketahui bersama ada 20
desa yang tersebar di wilayah Kecamatan Nuhon tapi kenyataanya hanya 11
puskesmas saja yang terfasilitasi kesehatanya dan hanya ada 1 Apoteker. Potret
ini menggambarkan masih ada desa di kecamatan Nuhon yang belum terfasilitasi
pelayanan kesehatanya dan masih minimnya layanan kesehatan bagi Masyarakat
Nuhon. Sehingga ini menjadi catatan penting pemerintah Kecamatan Nuhon di usia
yang ke 16 tahun untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan pelayanan publik di
bidang kesehatan sesuai peraturan UU 25 tahun 2009 yaitu untuk memenuhi hak
kebutuhan dasar rakyat. Karna ciri-ciri suatu wilayah dikatakan maju adalah
kesehatan masyarakatnya terjamin dan terfasilitasi dengan baik.
3. EKONOMI
ekonomi di daerah adala salah satu gambaran dimana pemerintah daerah dan masyrakatnya mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemintraan antara pemerintah dan masyarakat sebagai pelaku perekonomian. Salah satu pola kemitraan dalam ruang lingkup ekonomi adalah adanya pasar atau tempat transaksi jual beli baik dari produsen konsumen, dari pihak pemerintah ataupun swasta. Pasar masih menjadi tempat lokasi sentral dalam aktifitas perekonomian terlebih masyarakat mayoritas petani. Namun hal ini yang belum disadari oleh pemerintah khusunya wilayah Kecamatan Nuhon. Kita bisa berkaca ke wilayah tetangga yakni Bunta dan Simpang Raya. Dimana segala keperluan masyarakatnya bisa terpenuhi di aktifitas pasar tersebut. semoga ini jadi catatan penting untuk pemangku kebijakan agar lebih peka dan inovatif melihat peluang yang ada.
4.
SOSIAL
Sadar atau tidak sadar,
perlu kita akui bahwa dalam konteks sosial masyarakat nuhon masih ada masalah
sampai saat ini yang belum teratasi. Persatuan dan kesatuan masih didasari
antara ras, suku maupun wilayah desa. Seperti halnya permasalahan kepemudaan
yang mengatas namakan kampung A atau Kampung B yang sering terjadi beberapa
waktu lalu. Hal ini yang perlu kita sadari bahwa sudah menjadi kewajiban kita
sebagai warga negara harus menjaga ketertiban dengan rasa persatuan NKRI dan
menjujung Toleransi.
Demikian pandanagan penulis tentang refleksi 16 tahun Kecamatan Nuhon, adapun perbedaan pendapat itu adalah seni berdemokrasi. Dengan menjunjung rasa persatuan mari bergotong royong untuk Nuhon lebih maju. Terima Kasih
Penulis : I Putu Andre Juliana
Damai Makmur, 3 September 2020.

Komentar
Posting Komentar