Langsung ke konten utama

WAJAH PENDIDIKAN 75 TAHUN INDONESIA

 

WAJAH PENDIDIKAN 75 TAHUN INDONESIA

Penulis : I Putu Andre Juliana




Pasca 75 tahun merdeka, potret pendidikan Indonesia masih jauh dari apa yang di cita-citakan seperti  yang terkandung dalam  Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat yaitu  mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu aspek penting dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah memastikan pendidikan bisa di akses oleh seluruh rakyat tanpa ada pengecualian. Pada kenyataanya masih banyak anak-anak Indonesia yang belum bisa mengenyam bangku pendidikan, rendahnya angka partisipasi sekolah dan masih tingginya angka putus sekolah di Indonesia. jumlah peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 25,49 juta jiwa atau sebesar 56,26 % dari total peserta didik mencapai 45,3 juta jiwa. Adapun peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP) mencapai 10,13 juta jiwa (22.35%), sedangkan peserta didik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) mencapai 4,78 juta jiwa (10,56%) dan untuk Sekolah Menengah Kejuruan sebanyak 4,9 juta jiwa (10,83 %). Sumber Badan Pusat Statistik (BPS) 2017/2018. Potret pendidikan seperti ini tentu tidak sesuai dengan amanat Pasal 31 Ayat 1 UUD 1945 yaitu setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Selain permasalahan belum meratanya pendidikan di Indonesia, banyaknyak usia putus sekolah dan rendahnya partisipasi sekolah, kualitas pendidikan di Indonesia sampai sekarang juga masih menjadi masalah utama. Untuk menilai kualitas pendidikan suatu negara, tercermin juga dari sumber daya manusianya. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Bank dunia  dalam Indeks Sumber Daya Manusia (Human Capital Index) 2018 negara Indonesia hanya menempati posisi ke-87dari 157 negara. Rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah rendahnya kualitas pendidikan itu sendiri. Liat saja, pendidikan Indonesia berada urutan ke-72 dari 77 negara  di Laporan Programme For International Student Assesment (PISA) pada Desember 2019 lalu.

Pertanyaan besar, mengapa kualitas pendidikan Indonesia begitu buruk?

Bobroknya sistem pendidikan menjadi salah satu pemicu permasalahan pendidikan di Indonesia. Sejak reformasi bergulir hingga saat ini sistem pendidikan nasional yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 belum mengalami perubahan. Seharusnya sistem pendidikan segera dirubah agar dapat lebih fleksibel, dinamis fokus pada pengembangan peserta didik yang berkualitas agar mempunyai kapasitas, kridibilitas  untuk bersaing secara global.

Lemahnya sistem pendidikan dan kurikulum yang dianut disekolah menjadi permasalah utama karna dengan sistem pendidikan yang tidak sesuai akan berpengaruh pada pengembangan kemampuan peserta didik apalagi pendidikan kini berpusat dan dikendalikan oleh pemerintah. Sistem pendidikan yang diterapkan sekarang masih berorientasi kepada nilai dan ijazah bukan mutu pendidikan atau pengembangan kemampuan peserta didik. Kerap kali tenaga pendidik atau guru saat prpses belajar mengajar hanya mencekoki pelajaran spesifik kurikulum saja, sehingga banyak siswa-siswa yang telah lulus hanya dibekali dengan nilai dari mata pelajaran dan ijazah semata. Pemerintah masih berkutat dengan model tradisional yang menekankan untuk memperbanyak kaum terpelajar tanpa mempertimbangkan efektifitasnya pada siswa.

Selain permasalahan carut marutnya sistem pendidikan Indonesia, salah satu potret yang menggambakarkan mundurnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah masuknya paham kapitalisme dalam sektor pendidikan. Seperti kita ketahui sistem pendidikan di indonesia sekarang ini diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme) yang berprinsip meminimalkan peran tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan. Cermati saja Permendikbub Pasal 1 angka 4 dan angka 5  Nomor 75 tahun 2016 tentang komite sekolah, dengan adanya peraturan tersebut para siswa/siswi di kenakan pungut pendidikan membayar iuran sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) untuk tingkat sekolah menengah atas (SMA) atau sekolah menegah kejuruan (SMK). Hal ini mencerminkan  mahalnya pendidikan di Indonesia  dan sudah berorientasi ke sistem kapitalisme yang berdalil untuk “Kemajuan pendidikan”. Terlebih wacana program wajib belajar 12 tahun oleh pemerintah masih di persimpangan jalan karna sampai saat ini program tersebut masih belum memiliki payung hukum. Tentu harapan terwujudnya pendidikan gratis bagi rakyat Indonesia masih  menjadi angin lalu.

Adapun solusi yang diberikan dari permasalahan di atas mengenai sistem pendidikan di Indonesia adalah dengan mewujudkan sistem pendidikan yang berkarakter bangsa Indonesia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa . Konsepsi panca dharma yang dikemukan oleh Ki Hajar Dewantara adalah salah satu solusi untuk  menjawab permasalahan sistem pendidikan bangsa ini. Nilai nilai asas panca dharma seperti kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan dan kemanusiaan inilah yang perlu direaktualisasikan dalam penerapan praktek pendidikan di sekolah sehingga harapan proses belajar mengajar yang mengembangkan potensi peserta didik dan membentuk watak peradaban bangsa  dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terwujud. Semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani juga harus diterapkan dengan baik oleh tenaga pendidik sehingga dalam proses belajar mengajar tidak terlalu membahas spesifik kurikulum saja. Sudah seharusnya kita mempunyai sistem pendidikan yang  berkarakter tanpa menjiplak sistem-sistem pendidikan di luar yang bersifat liberal/kapitalisme.

Selain itu untuk mewujudkan amanat Pasal 31 Ayat 1 UUD 1945 pemerintah juga harus menjamin bahwa pendidikan  bisa di akses oleh seluruh rakyat Indonesia. UU Sisdiknas harus di amandemen pasal terkait wajib belajar 9 tahun di ubah menjadi wajib belajar 12 tahun. Atau bisa juga didorong melalui Intruksi Presiden dan Peraturan Daerah tentang pelaksanaan wajib belajar 12 tahun di provinsi.

Selain permasalahan utama di atas, tentunya masih banyak permasalahan pendidikan di Indonesia, seperti sarana prasarana yang belum memadai, keterbatasan akses pendidikan, kesejahteraan guru, kesadaran siswa dalam belajar dan masih banyak lagi. Hal ini menjadi PR bagi pemerintah dan masyrakat saling bahu membahu sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing untuk mewujudkan pendidikan Indonesia lebih maju. Berdasarkan rasa persatuan, perlunya sinergitas dan kesadaran  antara masyarakat dan pemerintah dalam upaya pembenahan pendidikan di negeri ini. bukan rahasia umum lagi bahwa maju tidaknya suatu negara di pengaruhi oleh faktor pendidikan. Semoga di momentum bulan kemerdekaan ini pendidikan Indonesia akan lebih baik lagi kedepanya.

Terima Kasih

Nuhon, 17 Agustus 2020



Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW BUKU "BERANI TIDAK DISUKAI"

Jakarta - Dalam buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Khisimi & Fumitake Koga merupakan buku nonfiksi yang berisi tentang teori psikologi Adler yang ditulis dengan gaya naratif antara seorang filsuf dan seorang pemuda, yang pemuda itu setiap malam secara terus menerus hingga lima malam mendatangi seorang filsuf untuk melontarkan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan persoalan kehidupan. Dalam lima hari tersebut, sang filsuf dengan senang hati terus memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan pemuda tersebut. Malam pertama, membahas persoalan menyangkal keberadaan trauma, malam kedua membahas semua persoalan adalah hubungan interpersonal, malam ketiga membahas  menyisihkan tugas-tugas lain, malam ke empat membahas di manakah pusat dunia ini dan malam kelima membahas  hidup dengan sungguh-sungguh di sini pada saat ini. Berdasarkan isi dari buku Berani Tidak Disukai, ada beberapa poin atau hal penting yang bisa di pelajarari. Dunia ini adalah sederhana, Namun ...

Jejak Harapan di Candi Prambanan, Edisi Tawur Agung Nyepi Tahun Saka 1945

Tulisan kali ini bukan tentang masalah ekonomi, politik atau pendidikan. Tapi saya ingin menuliskan sebuah pengalaman yang menurut saya pribadi sangat mengesankan. karena saya berpikir bisa merasakan pengalaman seperti mengunjungi kota Jogja dengan seribu ke istimewaanya apalgi bisa melaksanakan tawur agung kesanga di Candi Prambanan. yahh momen nyepi tahun saka 1945 kali memang berbeda. jika dulu Nyepi ada di kampung atau di kota luwuk tempat kuliah S1 saya, namun hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk merayakan rangkain Nyepi di tanah jawa.  Perjalanan Menuju Jogja Berangkat dari jakarta sekitar jam 4 subuh, waktu tempuh ke Jogja tempat saya dan teman-teman pimpinan pusat KMHDI menginap kurang lebih 9 jam. Namun dengan waktu tempuh yang lumayan lama tersebut saya tidak sama sekali merasa capek. Saya berpikiran mungkin ini pengaruhg semangat saya atau memang jalanya yang bagus. hal yang berbeda yang saya rasakan ketika menempuh perjalanan di daerah saya, badan rasa...

TAHAPAN BRAHMACARI SEBAGAI PONDASI DALAM MEMBANGUN GROWTH MINDSET PEMUDA HINDU

Oleh : I Putu Andre Juliana  Berbicara tentang tahapan berarti kita berbicara mengenai proses, jenjang, dan tingkatan dalam kehidupan. Dalam agama Hindu diajarkan tentang Asrama Dharma yaitu suatu tingkatan hidup yang dilalui oleh umat manusia, dari lahir hingga meninggal dunia. Ada empat tingkatan atau tahapan yang harus dijalani manusia, yang disebut dengan Catur Asrama. Catur Asrama berasal dari bahasa sansekerta yaitu dari kata Catur dan Astrama. Catur berarti empat dan Asrama berarti tingkatan hidup. Tingkatan hidup berdasarkan atas tatanan rohani, waktu, umur, dan sifat perilaku manusia. Secara konseptual, ajaran catur asrama mengajarkan bagaimana umat untuk menjalani karmanya sebagai manusia sesuai dengan pertumbuhan manusia itu sendiri. Catur Asrama ini adalah konsepsi dasar untuk mencapai empat tujuan hidup tersebut. Setiap jenjang kehidupan dalam ajaran Catur Asrama memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai. Pada masa Brahmacari menitik beratkan pada ilmu pengetahuan. ...