
“Situasi ekonomi
global saat menjadi lebih dan lebih menantang. Entahlah
ini berlebihan untuk mengatakan bahwa dunia dalam
kondisi berbahaya” – Sri Mulyani, Menteri Keuangan
Indonesia
Oleh : I Putu Andre Juliana
Ekonomi dunia diproyeksi gelap gulita
pada tahun 2023 mendatang. Hal tersebut dipicu oleh adanya the perfect storm
alias krisis multidimensi. Permasalah tersebut
terdiri atas inflasi tinggi, kontraksi ekonomi menuju resesi, hingga situasi
geopolitik yang masih dalam ketidakpastian.
Gambaran Umum
Resesi Secara umum, resesi merupakan
penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama lebih
dari 3 bulan. Suatu keadaan
disebut sebagai resesi jika memenuhi beberapa syarat,
termasuk diantaranya adalah penurunan ekonomi secara signifikan selama 2 kuartal
atau lebih. Resesi merupakan penurunan dalam kegiatan ekonomi yang semakin
merosot, ketika penurunan belanja menyebabkan pengurangan dalam produksi dan dengan demikian pekerjaan, memicu hilangnya pendapatan yang menyebar di seluruh
negeri dan dari satu industri ke industri lainnya, mengganggu penjualan dan
pada akhirnya kembali ke dalam penurunan produksi lagi, begitu seterusnya. Resesi ekonomi juga diartikan sebagai
penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dalam waktu stagnan dan lama, mulai
dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Resesi ekonomi bisa memicu penurunan
keuntungan perusahaan, meningkatnya pengangguran, hingga kebangkrutan ekonomi.
Sedangkan
dalam pengertian skala global, merupakan
keadaan ekonomi yang berdampak secara global dimana ekonomi tersebut mengalami
deselerasi dan penurunan. Menurut International
Monetary Fund,
bahwa resesi global merupakan keadaan inflasi Produk
Domestik Bruto
(PDB) dunia berdasarkan indikator ekonomi makro dunia, termasuk populasi
pengangguran, arus modal, produksi dalam industri, konsumsi minyak dunia, dan
perdagangan saham. Ketika resesi global berlangsung, keadaan negara-negara maju
nantinya menghadapi kontraksi yang dalam, dan dampak perekonomian bagi negara-negara
berkembang kelak melamban seketika.
Dibandingkan resesi nasional, akan
lebih sulit dalam mendefinisikan resesi global dikarenakan perbedaan PDB pada setiap negara dimana
negara-negara berkembang memiliki PDB yang lebih tinggi dibandingkan negara
maju. Ketika resesi yang pernah terjadi pada 2008, IMF memperkirakan
pertumbuhan PDB riil pada negara berkembang berada pada tren naik dan negara
dengan ekonomi maju mengalami tren turun sejak akhir 1980-an. Pertumbuhan dunia
diproyeksikan melambat dari 5% pada 2007
menjadi 3,75% pada 2008 dan menjadi lebih dari 2% pada
2009.
Tahun 2020 merupakan peristiwa
terbaru dimana dunia kembali mengalami resesi yang disebabkan pandemi
Covid-19. Semenjak pandemi melanda, ekonomi
global
diproyeksikan berkontraksi tajam hingga -3 persen pada tahun 2020, jauh lebih
buruk daripada selama krisis keuangan 2008. Kondisi keuangan di negara maju dan negara berkembang secara signifikan menjadi
lebih ketat daripada yang diperkirakan sebelumnya . Salah satu efek dari resesi
ini yaitu menurunnya harga komoditas dunia. Perkembangan ekonomi global pada
tahun 2022 sudah cukup baik walaupun kehidupan dan ekonomi masih dibayang
bayangi dengan ketidakpastian.
Tantangan
tersebut terutama akibat ketidakpastian yang masih tinggi terkait pandemi Covid-19, percepatan
pengetatan kebijakan moneter global dan eskalasi tensi geopolitik yang terjadi di Ukraina dan Rusia. Untuk
itu, peran kebijakan fiskal menjadi demikian krusial sebagai shock absorber untuk memitigiasi dampak
yang mungkin timbul, mendukung pengendalian pandemi, menjaga keberlanjutan pemulihan ekonomi,
serta memfasilitasi akselerasi reformasi struktural.
Tahun
2023 Ekonomi Global Diprediksi Mengalami Resesi
Resesi ekonomi menjadi hantu
menyeramkan bagi seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Ekonomi dunia
saat ini memang sedang baik-baik saja, terutama selepas pandemi Covid-19
mereda.Melihat laporan perkembangan ekonomi global yang mengkhawatirkan,
semakin sadar bahwa jurang krisis dan resesi ada di depan mata.Komoditas energi
yang melesat membuat inflasi melambung tinggi. Panasnya inflasi bikin bank
sentral dunia memutuskan mengetatkan kebijakan moneter dengan menaikkan suku
bunga. Pada akhirnya, ini dianggap sebagai pemantik resesi.
Resesi global ditandai dengan
melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia, melandainya permintaan dari negara maju,
melemahnya harga komoditas, dan terjadinya arus pembalikan modal (capital
reserval).Perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta permintaan dari negara
maju sudah terasa sejak kuartal II-2022. Secara teknikal, Amerika Serikat (AS)
bahkan sudah memasuki resesi pada April-Juni tahun ini.China sebagai negara
dengan perekonomian terbesar kedua setelah AS pun tak berkutik. Ekonomi Negara
Tirai Bambu tumbuh 0,4% pada kuartal II-2022 (year on year/yoy), jauh lebih
rendah dibandingkan 4,8% pada kuartal I-2022. Uni Eropa ekonominya tumbuh 4,1%
pada kuartal II-2022, terendah dibandingkan tiga kuartal sebelumnya. Sementara
itu, ekonomi Inggris tumbuh 4,4% pada April-Juni tahun ini, terendah sejak
kuartal I-2021.
Pada dasarnya, resesi dapat terjadi
apabila indikator makroekonomi berkurang selama periode waktu yang signifikan. IMF
menjadi lembaga penting yang menentukan resesi global terjadi di dunia. Resesi
ekonomi yang baru-baru ini terjadi adalah pada 2020, ketika pandemi Covid-19
melanda seluruh dunia. IMF mendeklarasikan secara global adanya resesi ekonomi
yang disebut the Great Lockdown. Resesi ekonomi pada 2020 menjadi resesi
terburuk sejak The Great Depression (1929-1939). Hal ini karena pandemi
menghambat aktivitas dan mobilitas manusia yang berimbas bagi roda ekonomi
macet.
Direktur
Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan
ekonomi global pada 2023 akan gelap gulita lantaran menghadapi risiko resesi
dan ketidakstabilan pasar keuangan. Georgieva mengatakan prospek ekonomi global
"gelap gulita" mengingat guncangan yang disebabkan oleh pandemi
Covid-19, perang Rusia vs Ukraina, hingga bencana iklim di semua benua. kepatuhan
pada aturan global, suku bunga rendah dan inflasi rendah, memberi jalan kepada
tatanan baru. Kondisi terkini, lanjutnya, bisa membuat negara mana pun dapat
terlempar keluar jalur dengan lebih mudah dan lebih sering. Dia mengatakan
semua ekonomi terbesar di dunia, termasuk China, Amerika Serikat dan Eropa,
saat ini mengalami perlambatan. Hal tersebut membuat berkurangnya permintaan
ekspor dari negara-negara berkembang, yang sudah terpukul keras oleh harga
pangan dan energi yang tinggi.
Resesi Global
Dampaknya Ke Indonesia
Dalam seminggu terakhir ini,
Pemerintah melalui Presiden
Joko Widodo mengungkapkan bahwa perekonomian dunia pada 2023 mendatang akan
mengalami kegelapan atau resesi ekonomi global. Presiden
Jokowi meminta masyarakat berhati-hati mulai saat
ini. Presiden menyatakan tahun 2023 diprediksi akan menjadi tahun gelap akibat
krisis ekonomi, pangan, hingga energi akibat pandemi Covid-19 dan perang antara
Rusia-Ukraina. Hal ini juga di ungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers usai pertemuan
Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Negara anggota G20 di Washington DC,
Amerika Serikat (AS), menurutnya situasi ekonomi global saat menjadi lebih
dan lebih menantang. Entahlah ini berlebihan untuk mengatakan bahwa dunia dalam
kondisi berbahaya. Hal tersebut bukanya tidak beralasan karena sejumlah dampak besar sudah melanda dunia akibat
resesi ekonomi Global.
Bank
Mandiri dalam laporannya Sectoral Searching for Opportunities to Grow
menggambarkan bagaimana resesi terjadi serta dampaknya ke Indonesia. Dalam
hitungan Bank Mandiri, dampak resesi kemungkinan akan panjang yakni hingga
2024.Sebagai bagian dari ekonomi global, Indonesia tentu saja akan terdampak
resesi. Perlambatan akan merembet melalui jalur ekspor, pelemahan harga
komoditas, pelemahan nilai tukar.Kondisi ini akan membuat kondisi perekonomian
domestik menjadi tidak pasti, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) akan
melemah, serta anjloknya kepercayaan konsumen.Ekspor Indonesia masih didominasi
komoditas dengan kontribusi sebesar 50%. Indonesia memang diuntungkan oleh
kenaikan harga komoditas setelah perang Rusia-Ukraina meletus.Namun, harga
komoditas mulai menurun memasuki semester kedua tahun ini. Harga minyak sawit
mentah, batu bara, nikel, hingga emas terus melandai.
Resesi ekonomi jelas bukan sesuatu
yang diharapkan dalam perekonomian. Resesi ekonomi tidak hanya berdampak kepada
pemerintah, tetapi juga perusahaan hingga kehidupan individu. Resesi ekonomi
membuat pendapatan negara dari pajak dan non pajak menjadi lebih rendah. Ini
karena penghasilan masyarakat menurun hingga harga properti yang anjlok dan
akhirnya memicu rendahnya jumlah PPN ke kas negara. Ketika
pendapatan negara sedang merosot, pemerintah tetap dituntut membuka lapangan
kerja sebanyak mungkin karena jumlah pengangguran yang meningkat. Akibatnya,
pinjaman ke bank asing bakal meroket.Selain itu, pembangunan tetap dituntut
untuk terus berjalan di berbagai sektor pemerintahan, termasuk menjamin
kesejahteraan rakyat. Pada akhirnya, penurunan pendapatan pajak dan
meningkatnya pembayaran kesejahteraan mengakibatkan defisit anggaran serta
tingginya utang pemerintah.
Pelaku ekonomi dan bisnis berpotensi
bangkrut saat terjadi resesi ekonomi. Ketika terjadi resesi ekonomi, daya beli
masyarakat menurun dan pendapatan perusahaan bakal semakin kecil. Kondisi ini
yang bakal mengancam kelancaran arus kas.Perang harga lantas menjadi opsi
perusahaan agar terhindar dari kebangkrutan. Namun, langkah ini membuat
keuntungan bakal menurun dan harus ditambal dengan melakukan efisiensi.
Biasanya, perusahaan bakal menutup area bisnis yang kurang menguntungkan hingga
memotong biaya operasional.
Selain itu,efisiensi yang dilakukan
perusahaan ketika terjadi resesi juga berdampak ke pekerja. Menutup area bisnis
yang kurang menguntungkan dan memotong biaya operasional berarti melakukan PHK
kepada banyak pekerja.Jika banyak terjadi PHK, berarti pengangguran semakin
meningkat. Padahal, mereka dituntut untuk terus memenuhi kebutuhan hidup di
tengah resesi ekonomi. Di lain sisi, bagi pekerja yang tidak terkena PHK juga
terancam terkena pemotongan upah dan hak kerja lainnya saat resesi ekonomi
terjadi.
Penutup
Ketika resesi global berlangsung,
keadaan negara-negara maju menghadapi kontraksi yang dalam. Sementara resesi ekonomi
memberikan dampak perekonomian bagi negara-negara berkembang kelak melamban
seketika. Perdagangan saham pun mengalami penurunan dengan cepat. Dampak resesi
ekonomi sangat signifikan bagi masyarakat yang berujung lemahnya daya beli dan
perlambatan ekonomi. Perlambatan ekonomi akan membuat sektor riil menahan
kapasitas produksinya sehingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan sering
terjadi bahkan beberapa perusahaan mungkin menutup dan tidak lagi
beroperasi.Kinerja instrumen investasi akan mengalami penurunan sehingga
investor cenderung menempatkan dananya pada bentuk investasi yang aman. Ekonomi
yang semakin sulit pasti berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat
karena mereka akan lebih selektif menggunakan uangnya dengan fokus pemenuhan
kebutuhan terlebih dahulu.
Perlambatan ekonomi, menurunya
instrumen investasi danl Lonjakan inflasi akibat melambungnya harga energi dan
pangan membuat ekonomi di negara-negara maju kendur karena permintaan masyarakat
melemah. Ancaman resesi semakin mendekati Indonesia. Semua pihak pun diminta
waspada karena dampak resesi tidak hanya berimbas kepada ekspor tetapi
sendi-sendi kehidupan masyarakat biasa.Tidak hanya di luar negeri saja, dampak
resesi juga akan dirasakan warga Indonesia. Oleh karenanya, ditengah ancaman krisis dan
resesi diakibatkan oleh pandemi Covid-19 dan perang politik global menyikapi alasan kenapa Indonesia harus
mandiri dalam ekonomi. Terima kasih
Komentar
Posting Komentar